Perilaku Individu Dan Nilai – Nilai Kepribadian
A. Perilaku dan Kepribadian
Perilaku adalah suatu fungsi dari integrasi antara
seseorang
individu dengan lingkungannya. Ketika seseorang individu berinteraksi dengan
lingkungannya maka disitulah
awal terbentuknya perilaku secara langsung.
Dalam organisasi hal ini tidak jauh berbeda, baik individu maupun organisasi dengan karakternya masing-masing reintegrasi maka
akan menimbulkan perilaku individu
dalam organisasi.
Setelah mengenal definisi perilaku, tentunya kita perlu tahu juga mengenai
kepribadian,
sebuah
hal penting yang memiliki ikatan erat
dengan
perilaku. Robbins dan
Judge menyatakan
bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dari
sistem psikologis dalam diri
individu yang menentukan penyesuaian uniknya pada
lingkungannya.
Hasil penelitian Purnomo
dan
Lestari (2010) secara umum,
hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa
kepribadian
dengan
beberapa dimensinya menentukan
keberhasilan
seseorang
dalam kesuksesan karier, kinerja yang baik, pencapaian prestasi
dan
perilaku positif. Suka bekerja sama, inovatif, terbuka, teratur dan gigih dalam bekerja, serta emosi yang emosi yang stabil merupakan karakter kepribadian yang positif, hal ini nantinya akan menjadi menentu kesuksesan
seseorang di dalam organisasi.
Hubungan antara
kepribadian dan perilaku merupakan salah
satu yang rumit namun harus
dipahami oleh seorang manajer dalam perusahaan. Kepribadian amat
banyak dipengaruhi
oleh
faktor kebudayaan dan
sosial. Berikut adalah prinsip-prinsip
yang dapat mendefinisikan kepribadian:
a. Kepribadian adalah suatu keseluruhan
yang terorganisasi, apabila tidak, individu tidak mempunyai arti.
b. Kepribadian kelihatannya di organisasi dalam pola tertentu. Pola
ini
sedikit banyak dapat diamati dan
diukur.
c. Walaupun
kepribadian
mempunyai dasar biologis, tetapi perkembangan
khususnya adalah hasil dari lingkungan sosial dan
kebudayaan.
d. Kepribadian mempunyai berbagai segi yang dangkal, seperti sikap untuk menjadi pemimpin tim, dan inti yang lebih dalam seperti sentimen mengenai wewenang
atau etika kerja.
e. Kepribadian mencakup ciri-ciri umum
dan
khas. Setiap orang berbeda satu
sama lain
dalam beberapa hal, atau sebaliknya.
B. Mengukur Kepribadian
Kepribadian seseorang dapat diukur dengan mengandalkan tes kepribadian,
hal
ini biasanya dapat membantu para manajer dalam membuat keputusan rekrutmen.
Mengetahui ilmu dalam mengukur kepribadian akan membantu
seorang
manajer dalam
memprediksi
kandidat yang bagus untuk sebuah posisi
dalam perusahaan. Selain itu, manajer juga akan terbantu karena dapat memahami“warna”
tim
yang dikelolanya. Seperti penjelasan sebelumnya, bahwa
kepribadian adalah jumlah total cara atau perilaku yang ditampilkan
individu sebagai reaksi atas individu itu
sendiri dan
interaksinya dengan
orang lain.
C. Determinan Kepribadian
Kepribadian
dibentuk sebagai
faktor herediter dan lingkungan.
Kepribadian
merupakan
konsistensi karakter yang ditampilkan
dalam perilaku individu sehari-hari.
Kepribadian
dapat
diidentifikasi
dengan
beberapa
tools, namun kembali dalam lingkup organisasi tidak serta-merta digunakan sebagai labe
namun sebatas sebagai paduan pemahaman atas karakter individu
dalam organisasi.
D. MBTI
The Myers-Briggs Type Indikator (MBTI) adalah instrumen
yang paling
sering digunakan dalam tes untuk menilai kepribadian. Instrumen penilaian berisi
100 kuesioner yang menanyakan bagaimana biasanya orang merasa atau bertindak
dalam situasi tertentu. Berdasarkan jawaban yang diberikan dalam tes tersebut, setiap
individu akan diklarifikasikan
sebagai:
Ø
Extraverted
(E) atau introverted (I)
Ekstraver adalah individu
yang ramah, suka bergaul, dan tegas. Introver
adalah individu yang cenderung pendiam dan pemalu.
Ø
Sensing
(S) atau
Intuitive (I)
Karakter sensitif adalah individu yang praktis dan lebih
menyukai rutinitas dan urutan, atau
biasa digambarkan sebagai seseorang yang sangat detail. Sedangkan karakter intuitif adalah gambaran individu yang mengandalkan proses-proses tidak
sadar dan melihat hal-hal yang terjadi
secara umum.
Ø
Thinking (T) atau
Feeling (F)
Karakter pemikir menggunakan alasan dan logika untuk
menangani
berbagai masalah, sedangkan individu dengan karakteristik perasa akan
mengandalkan nilai-nilai dan emosi pribadi mereka.
Ø
Judging
(J) atau Perceiving (P)
Individu yang memiliki karakteristik menilai cenderung lebih fleksibel dan spontan, sedangkan individu memiliki karakteristik memahami mengiginkan kendali dan lebih suka dunia mereka teratur dan restruktur.
E. Nilai
Nilai adalah dasar keyakinan yang dimiliki individu yang secara pribadi maupun sosial dapat diterima/disukai, sesuai kondisi atau situasi lingkungan yang dihadapi individu. Nilai yang ada pada seseorang adalah bagian dari kepribadiannya, merupakan keyakinan (beliefs) yang diperoleh dari pengalaman dan dipertahankan selama jangka waktu relatif lama, meskipun mungkin dapat berubah secara perlahan. Nilai-nilai yang ada pada seseorang turut menentukan persepsinya, sikap, motivasi dan perilakunya yang termasuk perilaku kerja dalam organisasi.



Komentar
Posting Komentar